Minggu, 01 April 2012

Angsa-Angsa Liar

Judul: Angsa-Angsa Liar
Penulis: Jung Chang
Harga : Rp. 100.000,-
Kategori : Kisah Nyata
Ukuran: 15 x 23 cm
Tebal: 596 halaman
Terbit: Juni 2005
ISBN: 979-22-1394-5
Status:NFS

********
Sinopsis


Kisah nyata ketegaran tiga wanita china melalui pergolakan sosial sejak jatuhnya Pu Yi, masa penjajahan Jepang, perang saudara, kejayaan komunis, sampai masa kini.

Nenekku selir seorang panglima perang yang amat berkuasa. Dia tinggal di rumah megah, dilayani sejumlah pelayan, dihadiahi aneka perhiasan mewah, tapi hidup merana karena selalu diawasi dan dilarang keluar rumah. Namun, dengan berani dia menentang suaminya dan mendobrak adat yang telah tertanam kuat selama lebih dari dua ribu tahun.


Ibuku, putri tunggal nenekku, menghabiskan masa remaja di tengah pergolakan perang saudara dan perebutan kekuasaan antara Kuomintang dan Komunis. Dia memilih menjadi anggota Partai Komunis China karena yakin akan cita-cita luhur mereka dan karena jatuh cinta pada seorang komandan gerilya Komunis yang sangat ditakuti.

Aku, putri kedua ibuku, lahir di masa kejayaan Komunis, ketika ayahku telah menjadi gubernur dan ibuku menjadi pejabat penting. Di masa kanak-kanak, aku hidup terlindung di lingkungan perumahan pejabat tinggi Partai dengan segala kemudahan dan hak-hak istimewa. Tapi... umurku belum empat tahun ketika angin perubahan politik mulai bertiup. Tahun demi tahun berlalu. Angin perubahan tidak mereda, malah semakin kencang dan akhirnya memuncak menjadi badai yang memporakporandakan semua sendi kehidupan rakyat China.

Ayahku yang terkenal amat jujur ditahan, disiksa, menjadi gila, dan di buang ke kamp kerja paksa. Ibuku di buang ke kamp lain. Aku dan kakakku harus menjalani re-edukasi dan menjadi petani di sebuah pedesaan terpencil di kaki Pegunungna Himalaya. Ketiga adikku tercerai-berai dan menjadi anggota geng jalanan. Agar terhindar dari pengucilan dan siksaan, kami berlima diperintahkan mengingkari orangtua kami. Tapi kami menolak. Hanya satu yang membuat kami tegar dan mampu bertahan: rasa hormat dan sayang kami kepada orangtua kami.

*********


Resensi:
Angsa-angsa Liar
Oleh: Endah Sulwesi 

 Negeri Cina, sebagai sebuah bangsa, memiliki sejarah yang panjang. Negeri luas meliputi daratan yang membentang di tengah-tengah benua Asia ini adalah salah satu raksasa Asia dengan jumlah penduduk lebih dari satu milyar jiwa. Sebelum menjadi republik seperti sekarang, dahulunya Cina adalah kerajaan yang dipimpin oleh seorang kaisar dengan kekuasaan yang nyaris mutlak. Pada tahun 1911, Pu Yi sebagai kaisar terakhir yang waktu itu masih berumur 5 tahun, digulingkan dan sebuah republik didirikan di bawah pimpinan Sun Yat-sen.

Masa pemerintahan Sun Yat-sen tak bertahan lama. Republik yang baru berdiri itu diramaikan oleh perebutan kekuasaan di antara para jendral (panglima) dan membuat suasana menjadi kacau-balau. Waktu itu kaum nasionalis atau yang dikenal dengan nama Kuomintang, di bawah komando Chiang Kai-shek, masih berjaya. Mereka memburu dan mengejar-ngejar lawan politik mereka : komunis. Kelompok komunis yang terdesak ini, dengan jumlah pasukan dan pengikut yang kalah jauh dari Kuomintang, terpaksa menarik diri sampai ke daerah-daerah pegunungan di Cina Tengah. Dari sana mereka menghimpun kekuatan untuk kelak melancarkan serangan balasan terhadap Koumintang.

Perlawanan kaum Komunis itu dimulai dengan apa yang dinamakan "Long March" (1934) dan disusul kemudian dengan merebut kekuasaan dari tangan Kuomintang pada 1936. Keadaan bertambah ricuh dengan masuknya Jepang menduduki beberapa daerah di Cina utara dan tengah. Komunis dan Kuomintang terpaksa bekerja sama untuk sementara guna menghadapi musuh negara : Jepang sampai tahun 1945.

Setahun kemudian, pecahlah perang saudara. Kubu komunis meraih kemenangan besar dan memaksa pihak Chiang Kai-shek menyingkir ke Taiwan. Kemudian pada 1949 terbentuklah Republik Rakyat Cina (RRC) dengan Mao Tse-Tung /Mao Zedong sebagai pemimpin partai.

Ilustrasi di atas adalah masa-masa yang menjadi setting cerita Angsa-angsa Liar ini. Hiruk-pikuk tiga zaman itu menjadi latar belakang kisah biografi tiga orang perempuan Cina pemberani dari tiga generasi, yaitu : Yu-Fang, De Hong, dan Jung Chang (penulis buku ini). Yu-Fang adalah neneknya sedangkan De Hong, ibunya.

Seperti disampaikan oleh penulisnya dalam kata pengantar, buku ini adalah persembahannya bagi sang ibu yang amat dihormati dan dicintainya. Maka, meski berkisah juga soal nenek dan dirinya, namun bagian ibunya (De Hong) mendapat porsi terbesar.

Sebagai sebuah kisah biografi, Jung Chang bercerita dengan urutan yang runut. Dimulai dari kehidupan sang nenek yang menjadi selir dari seorang panglima perang bernama Jendral Xue sampai kepada kisah hidupnya sendiri kelak. Neneknya hanyalah satu dari sekian banyak selir yang dimiliki Jendral Xue. Waktu itu adalah sesuatu yang wajar atau bahkan sudah merupakan keharusan seorang pria kaya, berkuasa dengan jabatan tinggi mempunyai banyak selir di banyak kota. Hidup sebagai selir, tidaklah mudah. Walaupun selalu dibanjiri oleh hadiah-hadiah dari suaminya, namun Yu-Fang tidak bahagia.

Dari perkawinan itu, lahirlah De Hong sebagai putri satu-satunya pasangan tersebut. Setelah Jendral Xue meninggal, Yu-Fang, sebagai mantan selir bersama putrinya, diharuskan tinggal satu rumah bersama-sama istri dan selir-selir sang jendral yang lain. Namun, Yu-Fang hanya mampu bertahan sebentar di rumah tersebut. Pada suatu hari, ia bersama bayinya melarikan diri kembali ke kampung halaman mereka dan tak lama kemudian menikah kembali dengan Dokter Xia, duda dengan empat orang anak yang telah dewasa.

Untuk ukuran tradisi Cina saat itu, perempuan yang menikah kembali setelah suaminya meninggal,apalagi ia hanya seorang selir, akan dicap sebagai perempuan tidak baik. Perkwainan itu mendapat tentangan dari pihak kedua keluarga, terutama dari anak-anak dokter Xia. Tetapi Yu-Fang tak peduli. Ia menikahi dokter Xia berdasarkan cinta. Ia ingin menjalankan sisa hidupnya bersama suami pilihannya sendiri, sebagai istri sah, bukan selir seperti perkawinannya yang pertama. Dan ia bahagia dengan pilihannya tersebut. Apalagi ternyata dokter Xia juga sangat menyayangi De Hong seperti kepada anaknya sendiri.

Sebagai putri tunggal, De Hong amat disayang oleh kedua orangtuanya. Ia dididik dengan disekolahkan sampai jenjang tertinggi bagi gadis-gadis di masa itu. Masa remaja De Hong berlangsung di tengah kemelut perang saudara antara Kuomintang dan Komunis. Propaganda Partai Komunis di bawah kepemimpinan Mao berhasil memikat jiwa revolusioner De Hong si remaja. Iapun lantas bergabung bersama pemuda-pemudi yang lain menjadi anggota partai merah tersebut. Di sini pula ia berjumpa dengan dan lantas jatuh cinta pada Wang Yu, seorang pemuda cerdas anggota partai yang militan yang kelak menjadi suaminya.

Pada bagian inilah, penulis mengupas secara detail seluk-beluk kehidupan masyarakat Cina di bawah kekuasaan rezim Komunis berdasarkan pengalamannya. Sebagai anak seorang pejabat tinggi partai - ayahnya menjadi gubernur dan ibunya memegang jabatan penting di salah satu departemen - Jung Chang menikmati masa kanak-kanak yang manis dengan segala fasilitas dan kemudahan. Ayah dan ibunya adalah pejabat-pejabat partai yang jujur dengan dedikasi tinggi serta loyalitas total kepada cita-cita partai dan Ketua Mao. Mereka sepenuhnya percaya bahwa Mao akan membawa Cina menjadi sebuah masyarakat komunis yang adil makmur, sama rata sama rasa.

Namun, kekuasaan selalu menyilaukan dan membuat lupa diri. Tak ada yang rela kehilangan begitu saja segala kenikmatan yang diberikan kekuasaan kepada para pemegangnya. Kursi empuk kekuasaan membuat terlena yang mendudukinya, sehingga segala cara lalu dihalalkan untuk mempertahankannya. Meskipun harus mengorbankan kawan seperjuangan dan para pendukung setia.

Mao yang haus kekuasaan perlahan-lahan menjelma menjadi diktator yang kejam dan bengis. Tanpa segan menyiksa dan membunuh mereka yang dianggap bersalah menurut penilaiannya. Rakyat hidup dalam teror ketakutan terus-menerus. Jung Chang menggambarkan dengan baik sekali situasi dan kondisi masyarakat Cina yang menderita di bawah tekanan rezim komunis itu : krisis ekonomi, krisis pangan dan bencana kelaparan yang membunuh jutaan rakyat tak berdosa, hasut-menghasut serta kekerasan di antara warga dan sesama anggota partai, penyiksaan terhadap warga yang dituduh pengkhianat atau dicurigai sebagai mata-mata, hilangnya kebebasan dan kepemilikan pribadi serta kewajiban-kewajiban tidak masuk akal yang harus dijalankan. Ujung-ujungnya, masyarakat komunis adil makmur, tak pernah terwujud.

Di tengah semua tekanan itu, Jung Chang beserta ayah, ibu, nenek, dan saudara-saudaranya menghadapinya dengan tabah dan berani. Moral dan kejujuran mereka yang telah tertempa dengan baik selama ini tak tergerus oleh keadaan yang serba berbalik seratus delapan puluh derajat. Mereka tetap setia pada tujuan perjuangan partai. Yang mulai terasa goyah justru keyakinan mereka pada kepemimpinan Mao. Mereka melihat Mao telah terlalu jauh menyimpang dalam upaya mencapai tujuan itu sehingga membuat rakyat menderita. Dan meragukan Mao berarti sama saja dengan menyerahkan diri untuk dihukum penjara atau disiksa sampai mati. Minimal dibuang ke kamp kerja paksa.

Lewat sudut pandangnya berdasarkan pengalaman empiris, Jung Chang menulis sejarah Cina abad ke-20 dengan cara yang sangat menarik. Kalimat-kalimatnya cukup ngepop untuk sebuah novel sejarah, sehingga kita dapat mengikutinya seperti membaca kisah fiksi. Sudah tentu, sebagai satu kisah nyata, perasaan penulisnya amat terlibat di dalamnya dan berkat kemahirannya bercerita, ia berhasil menggugah, menyeret, dan membentur-benturkan emosi pembacanya terutama saat berhadapan dengan bagian-bagian yang tragis dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bagaikan tengah bersaksi, Jung Chang menyingkap seluruh tabir gelap yang selama ini menyelimuti fakta yang sebenarnya terjadi. Dan untuk melakukan semua itu, seseorang membutuhkan keberanian yang besar.

Sebagai pelengkap dan data pendukung kebenaran kisahnya, Jung Chang menampilkan 31 foto (hitam putih) dalam buku setebal hampir 600 halaman ini. Bahkan salah satu foto tersebut - foto ibunya - dipakai sebagai ilustrasi cover edisi bahasa Indonesia. Hasilnya adalah sebuah desain sampul yang bagus, berhasil menampilkan kesan yang kuat untuk buku ini.

Buku ini meraih NCR Book Award pada 1992 dan British Book of The Year Award 1993. --Endah Sulwesi Sumber: http://www.ruangbaca.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar