Kamis, 29 Maret 2012

Catatan Seorang Demonstran

Judul: CATATAN SEORANG DEMONSTRANPenulis: Soe Hok Gie
Penerbit: LP3ES, Jakarta, 1993,
Tebal: 454 halaman.
Harga : Rp. 115.000,00
Status: NFS

******
Sinopsis:‘Catatan Seorang Demonstran’ Sebuah buku tentang pergolakan pemikiran seorang pemuda, Soe Hok Gie. Dengan detail menunjukkan luasnya minat Gie, mulai dari persoalan sosial polotik Indonesia modern, hingga masalah kecil hubungan manusia dengan hewan peliharaan. Gie adalah seorang anak muda yang dengan setia mencatat perbincangan terbuka dengan dirinya sendiri, membawa kita pada berbagai kontradiksi dalam dirinya, dengan kekuatan bahasa yang mirip dengan saat membaca karya sastra Mochtar Lubis.

“Gie”, banyak menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat kaleng yang memaki-maki dia ” Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Ibunya pun sering khawatir karena langkah-langkah “Gie” hanya menambah musuh saja.
“Soe Hok Gie” bukanlah stereotipe tokoh panutan atau pahlawan yang kita kenal di negeri ini. Ia adalah pecinta kalangan yang terkalahkan dan mungkin ia ingin tetap bertahan menjadi pahlawan yang terkalahkan, dan ia mati muda.

Semangat yang pesimis namun indah tercermin dimasa-masa akhir hidup juga terekam dalam catatan hariannya : “Apakah kau masih disini sayangku, bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu.”

****
Resensi:
Cara melontarkan pikiran
Salim Said

Buku Soe Hok Gie ini adalah buku catatan harian kedua yang terbit di Jakarta — selang tidak lama setelah buku yang sama dari Ahmad Wahib beredar. Kedua penulis buku itu mati muda dan mendadak. Perasaan kehilangan atas kepergian mendadak itulah rupanya yang menggerakkan teman-teman kedua almarhum untuk menerbitkan catatan harian mereka. Kenyataan ini tidak luput dari perhatian Daniel Dhakidae yang menulis pengatar panjang untuk buku Soe Hok Gie ini. Bahkan ia melihat persamaan-persamaan antara keduanya (halaman 23). Tidak bisa disangkal banyaknya persamaan itu — yang dijajaki Daniel dengan bagus sekali. Kalau saja ia menjajaki lebih jauh lagi barangkali juga akan terlihat perbedaan yang tidak kurang menyolok.

Soe Hok Gie pada dasarnya seorang aktivis. Sedang Ahmad Wahib seorang perenung. Perbedaan ini dengan sendirinya membawa akibat luar biasa pada catatan harian mereka. Catatan harian Soe Hok Gie. adalah catatan kegiatan. Sementara Ahmad Wahib mencatat renungan-renungannya. Apakah Soe Hok Gie tidak punya pemikiran-pemikiran? Jelas punya. Ia dengan sangat jelas melemparkan pikiran-pikirannya lewat sejumlah tulisan di berbagai koran, majalah, pamflet, serta penerbitan lainnya di dalam maupun di luar negeri.

Sebagai aktivis yang dikenal luas pada masanya — baik oleh para mahasiswa, pembaca koran maupun oleh tokoh seperti Almarhum Presiden Soekarno — kematian mendadak Soe Hok Gie tidaklah lalu berarti berangkatnya dia dari ingatan banyak orang di antara kita. Tapi kematian fatal Ahmad Wahib, di tepi Jalan Senen Raya, bisa mengakhiri segalanya bila ia tak meninggalkan catatan hariannya satu-satunya hasil kerjanya yang membukakan dirinya kepada kita. Perbandingan antara kedua tokoh yang mati muda itu membawa saya kepada satu pertanyaan yang terus menggoda ketika membaca buku Catatan Seorang Demonstran ini.

Catatan harian ini konon dipersiapkan oleh Yayasan Mandalawangi dalam rangka melanjutkan usaha yang telah dimulai oleh almarhum (halaman xiii-xiv). Yang aneh bagi saya, kalau memang demikian niatnya, mengapa justru bukan karangan-karangan almarhum yang dikumpulkan untuk diterbitkan? Karangan-karangan itu lebih jelas menggambarkan, bukan saja sikap dasar atau filosofi hidup Soe Hok Gie, juga cara-cara almarhum melaksanakan cita-citanya. Saya mempunyai kesan yang amat kuat bahwa bagi Almarhum Soe Hok Gie, seorang sejarawan, catatan harian ini betul-betul merupakan catatan bagi suatu penulisan yang suatu kali akan dilakukannya.

Dan sebagai catatan yang sifatnya sangat pribadi ditulis tanpa jarak yang memadai dari kejadiannya, sudah jelas catatan demikian belum mencerminkan penulisnya secara utuh. Ibaratnya membuat film, yang dilakukan Soe Hok Gie lewat catatan hariannya barulah mengumpulkan shot-shot sebanyak mungkin. Belum jelas film apa yang akan dibuatnya, sebab itu masih tergantung tema yang sedang dikembangkannya. Bahkan jika tema telah mendapatkan bentuk, proses editing masih akan berpengaruh besar terhadap tema yang dibangun dari shot-shot yang telah dikumpulkannya sejak ia masih remaja.

Teman-teman Soe Hok Gie ternyata punya cara sendiri untuk berkabung: shot-shot itu diputar di bioskop. Akibatnya, gambaran Soe Hok Gie yang muncul ialah gambaran anak remaja yang punya cita-cita, bekerja keras, tapi juga menjadikan hanya dirinya sebagai pusat segalanya. Dari catatan harian Soe Hok Gie itu hampir sulit menemukan orang baik, kecuali dirinya sendiri. Bukan maksud saya untuk menyepelekan buku Soe Hok Gie ini.

Dari beberapa catatannya kita memang bisa memperoleh gambaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada masa itu: di kampus, di kalangan orang-orang sosialis yang partainya, PSI, dibubarkan, maupun hubungan orang-orang itu dengan kalangan militer. Tapi bagian-bagian ini tetap saja tidak bisa menghapuskan kebosanan kita terhadap catatan mengenai kehidupan di Fakultas Sastra — yang saya kira hanya cukup menarik untuk teman-teman almarhum yang mempunyai nostalgia terhadap masa itu. Catatan harian ini akan lebih berharga jika disertakan tulisan-tulisan almarhum yang tersebar di berbagai media. Adakah penerbitan catatan harian ini cuma merupakan kekeliruan cara menyatakan kesedihan atas kematian seorang teman? Entahlah.
Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1983/08/06/BK/mbm.19830806.BK45963.id.html

Catatan Abadi Para Demonstran

HASIL suntingan Ismid Hadad dan Fuad Hashem sudah kelar. Buku Catatan Seorang Demonstran siap naik cetak pada 1972. Tapi buku yang berisi kumpulan catatan harian Soe Hok Gie itu akhirnya masuk laci. “Gie telanjang menyebut sejumlah nama yang dianggapnya bobrok. Padahal situasi sosial politik pada saat itu masih rawan,” kata Daniel Dhakidae, salah seorang penggagas penerbitan buku tersebut.

Gagasan itu datang dari Yayasan Mandalawangi, yang didirikan teman-teman Gie. Untuk mengenang salah satu tokoh demonstran angkatan 1966 itu, mereka berencana menerbitkan catatan harian yang ditulisnya sejak dia berumur 15 tahun hingga 8 Desember 1969. Sayang, buku tersebut urung terbit. Baru 11 tahun kemudian, Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) bisa menerbitkan buku tersebut. Itu pun bukan dari naskah asli, tapi dari hasil fotokopi yang dimiliki Daniel.

Bukan cuma perjalanan naskah yang panjang. Pengaruh buku ini juga merentang jauh melewati zamannya. Aktivis mahasiswa dan demonstran menjadikan buku itu sebagai bacaan wajib. Pendiri Partai Rakyat Demokratik yang juga aktivis 1990-an, Budiman Sudjatmiko, misalnya, mengatakan Catatan menawarkan kepahlawanan. Ia melihat Gie sosok muda, cerdas, dan jujur. “Dia berani berdebat, beda pendapat, dan mengambil risiko,” kata Budiman, yang kini aktif di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Ia membaca Catatan sejak duduk di kelas II Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 1 Yogyakarta, sepuluh tahun silam. Pada saat itu, diskusi menjadi menu rutin kalangan mahasiswa Yogyakarta. Di antara mereka, terselip sejumlah pelajar seperti Budiman. “Buku itu juga dibaca hampir semua aktivis Forum Kota,” kata Koordinator Forum Kota Adian Napitupulu. Forum yang beranggotakan aktivis mahasiswa dari 56 kampus di Jakarta dan sekitarnya ini punya andil menumbangkan Soeharto pada 1998.

Di masa kini, Catatan tetap menjadi menu utama para demonstran. Setidaknya itulah yang dilakukan Kurnia Yudha, 25 tahun, mahasiswa Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada yang juga kuliah di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Jauh sebelum membaca Catatan, ia adalah pentolan geng motor. Semasa di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, ia jago trek-trekan di kota kelahirannya, Blitar, Jawa Timur.

Bandul hidup Yudha mendadak berbalik ketika ia duduk di kelas III sekolah menengah atas, pada 2000. Seniornya yang sudah kuliah di Yogyakarta meminjami dia fotokopi Catatan. Sejak itu, ia terobsesi menjadi aktivis. Setahun kemudian, Yudha menyusul kuliah di Yogyakarta dan keinginannya tersalurkan. Pada peringatan Hari Buruh 1 Mei lalu, ia bersama sejumlah temannya ditangkap polisi Jakarta Selatan karena berdemonstrasi di depan Wisma Bakrie, Kuningan, Jakarta. “Kami tak punya izin,” katanya, Jumat dua pekan lalu.

Gie memang layak jadi panutan. Anak keempat penulis dan redaktur sejumlah surat kabar dan majalah, Soe Lie Piet, ini lahir pada 17 Desember 1942 ketika perang berkecamuk di Pasifik. Gie masuk sekolah dasar khusus etnis Cina, Sin Hwa School, Jakarta. Kemudian ia diterima di Sekolah Menengah Pertama Strada. Selanjutnya, Gie masuk Sekolah Menengah Atas Kanisius. Pada 1961, ia melanjutkan pendidikan di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan lulus delapan tahun kemudian. Ia lalu mengajar di almamaternya.

Ketika kuliah, hari-hari Gie penuh dengan rapat, demonstrasi, serta menyebarkan pamflet dan propaganda. Ia tidak diam ketika pemerintah Soekarno abai terhadap kemelaratan. Ekonomi mengalami depresi. Kebijakan sanering, memotong nilai uang hingga tinggal separuh, justru mengakibatkan keadaan makin runyam. Karena itu, Gie berharap mahasiswa terlibat dalam perjuangan bangsanya. Itu, kata dia, karena mahasiswa adalah sedikit orang bahagia yang terpilih sehingga bisa kuliah.

Pada 1966, ketika mahasiswa tumpah ke jalan, Gie bergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia. Ia termasuk di barisan paling depan. Gagasan Gie juga tersebar di Kompas, Sinar Harapan, dan Harian Kami. Ia masuk organisasi Gemsos, Gerakan Mahasiswa Sosialis. Ketika keadaan ekonomi makin kacau, Gie resah. Dia mencatat, “Kalau rakyat Indonesia terlalu melarat, maka secara natural mereka akan bergerak sendiri. Dan kalau ini terjadi, maka akan terjadi chaos. Lebih baik mahasiswa yang bergerak.”
Gie menjadi salah satu arsitek long march, aksi jalanan di Jakarta, menuntut harga bensin dan karcis bus kota turun. Dia pernah nekat merebahkan diri di depan panser tentara pembela Soekarno dan memaksanya berhenti. Gie bukan orang lapangan, tapi ia aktor intelektual di balik demonstrasi jalanan Jakarta masa itu. Gie juga salah seorang tokoh kunci terjadinya aliansi mahasiswa-militer pada 1966 sehingga Soekarno tumbang.

Jiwa pemberontak Gie mulai tumbuh saat dia masih berumur 14 tahun, kelas II sekolah menengah pertama. Ia mendapat nilai ujian 8 untuk pelajaran ilmu bumi, tapi diubah oleh gurunya menjadi 5. Gie, orang nomor tiga paling pandai di kelas, merasa nilai yang diberikan guru itu sewenang-wenang. Akibat ulah guru ini, Gie menulis dalam catatan harian: “Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu…. Dendam yang disimpan, lalu turun ke hati, mengeras sebagai batu.”

Ketika di sekolah menengah atas, Gie punya pengalaman tak terlupakan. Seorang gembel memakan kulit mangga di dekat rumahnya di Kebon Jeruk, Jakarta. Rupanya, ia kelaparan. Gie lalu menyodorkan uangnya yang tinggal dua setengah rupiah untuk si pemakan kulit tadi. Gie sangat terpukul oleh kejadian itu. Soalnya, dua kilometer dari situ, Gie menggambarkan “paduka” di istana tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik.

Mereka, seperti ditulis Gie pada 10 Desember 1959, adalah orang yang sedang berkuasa saat itu, yang dibesarkan di zaman Hindia Belanda. Yang dituding Gie adalah Soekarno, Hatta, Sjahrir, atau M. Yamin. Gie mengakui mereka pejuang yang gigih. Tapi, di mata Gie, mereka telah mencederai perjuangan. Soekarno berkhianat pada kemerdekaan. Yamin telah memalsukan sejarah Indonesia. Hatta tak berani menyatakan kebenaran.

Adik sosiolog Arief Budiman ini meninggal akibat menghirup gas beracun saat mendaki gunung tertinggi di Jawa, Semeru, pada 16 Desember 1969. Ia meninggal bersama Idhan Lubis. Sebelum Gie mendaki Semeru, banyak yang bertanya buat apa dia naik gunung. Gie menjawab, pertumbuhan jiwa pemuda yang sehat harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. “Karena itulah kami naik gunung,” katanya.
Gie mati muda. Tapi, menurut Daniel, Gie mewariskan semangat kepada kaum muda. Konteks persoalan yang dihadapi Gie berbeda dengan perkara yang dihadapi generasi muda setelah Gie. Tapi moral Gie berkobar hingga kini. Setidaknya itulah yang tecermin dari bukunya. Buku dengan sampul depan foto demonstrasi mahasiswa 1966 dan foto Gie di sampul belakang itu telah dicetak ulang sampai enam kali dalam kurun 1983-1993.

Catatan pernah terbit dengan sampul Nicholas Saputra bersponsor Sampoerna A Mild ketika Mira Lesmana merampungkan film Gie pada 2004. Kepala Redaksi LP3ES Widjanarko Soejono mengatakan sedang menyiapkan edisi cetak ulang kesembilan Catatan. Kali ini, Catatan kembali bergambar sampul seperti cetakan awal. Penjualan Catatan menembus 25 ribu eksemplar, tertinggi di LP3ES.
Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/05/19/LU/mbm.20080519.LU127228.id.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar